MAKASSAR — Pelaksanaan Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) tahun 2026 tingkat Provinsi Sulawesi Selatan resmi berakhir pada Senin (5/10/2026) di MAN 3 Kota Makassar. Namun, di balik riuhnya ruang ujian, tersimpan kisah perjuangan yang menguras emosi dan air mata dari para siswa MTsN Kota Palopo yang berjuang habis-habisan demi membawa pulang kebanggaan.

Bukan perjalanan yang mudah bagi para delegasi muda ini. Menuju panggung provinsi menuntut pengorbanan yang luar biasa. Selama berbulan-bulan, mereka harus merelakan waktu bermain, menembus rasa lelah di kelas bimbingan hingga larut malam, dan melawan rasa gugup yang luar biasa. Didampingi para guru pembina yang tidak lelah memeluk keluh kesah mereka, anak-anak ini membuktikan bahwa keterbatasan jarak dari Palopo ke Makassar bukanlah penghalang untuk bermimpi besar.

Suasana haru begitu terasa saat ujian berakhir. Pelukan erat antara guru pendamping dan siswa pecah di koridor madrasah, menjadi simbol pelepasan beban berat yang selama ini mereka pikul bersama di pundak-pundak kecil itu. Apa pun hasilnya nanti, mereka telah menjadi juara di hati seluruh masyarakat Madrasah Kota Palopo atas ketangguhan yang ditunjukkan.

Melihat perjuangan yang menyentuh hati tersebut, Kepala Madrasah tidak dapat menyembunyikan rasa bangga sekaligus harunya. Secara khusus, beliau menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas sokongan penuh dari jajaran pimpinan yang menjadi jangkar kekuatan di balik layar.

"Secara pribadi, saya mengungkapkan ucapan terima kasih yang mendalam atas dedikasi Bapak Dr. H. Muhammad Haderawi selaku Kepala Kantor Kemenag Kota Palopo, serta Bapak H. Mikail, M.H. selaku Plt. Kasi Pendidikan Islam (Pendis).sersama dengan staf atas atensi, pelukan hangat, dan perhatian penuh dari beliau berdua kepada para pembina, pendamping, dan terutama anak-anak kami, menjadi bahan bakar semangat yang luar biasa. Kehadiran beliau membuat anak-anak merasa tidak berjuang sendirian," ungkap Kepala Madrasah dengan nada bergetar penuh rasa syukur.

Kini, seluruh tim MTsN Kota Palopo kembali dengan kepala tegak. Mereka tidak hanya membawa pulang pengalaman kompetisi berbasis komputer yang sengit, tetapi juga pulang sebagai pahlawan yang telah menuntaskan tugasnya dengan pengorbanan terbaik.