PALOPO — Sebanyak 64 siswa perwakilan Organisasi Siswa Intra Madrasah (OSIM) dan Majelis Permusyawaratan Kelas (MPK) MTsN Kota Palopo menggelar kegiatan Studi Religi ke sejumlah situs bersejarah di Kota Palopo pada Sabtu, 17 Oktober 2026. Kegiatan yang diinisiasi oleh Bidang 2 Wawasan Kebangsaan dan Bela Negara OSIM ini mengusung tema “Belajar Budaya Luwu: Menghargai Kearifan Lokal, Bangga Budaya Sendiri”.

Dalam penjelajahannya, para peserta didampingi oleh 3 guru pendamping, yaitu Hasri Hairuddin, S.Ag., M.M.Pd. (Wakamad Kesiswaan), Julaida Arista, S.Pd., Gr. (Pembina OSIM/MPK), dan Ustaz Tahir (Staf Kesiswaan). Studi religi ini bertujuan untuk memperluas wawasan kebangsaan siswa madrasah melalui pengenalan sejarah dan kearifan lokal Tana Luwu langsung di lapangan.

Kegiatan positif ini mendapat apresiasi tinggi dari Kepala MTsN Kota Palopo, HM. Nurdin A.N. Beliau menyatakan rasa bangga dan dukungannya yang penuh terhadap inisiatif pengurus OSIM-MPK yang memilih melakukan napak tilas sejarah lokal sebagai program kerja mereka.

"Kami sangat mengapresiasi program studi religi ini. Mengenal rekam jejak pemikiran cemerlang To Ciung di Makam To Ciung serta menyelami nilai patriotisme di Istana Langkanae Kedatuan Luwu adalah langkah nyata bagi siswa madrasah untuk tidak melupakan akar budayanya. Di era modern ini, kecerdasan intelektual harus berjalan beriringan dengan pemahaman kearifan lokal agar para siswa tumbuh menjadi generasi yang tangguh, berkarakter, dan memiliki rasa nasionalisme yang berlandaskan nilai-nilai luhur Tana Luwu," ujar HM. Nurdin A.N.

Berikut adalah laporan  perjalanan  para siswa MTsN Kota Palopo di tiga situs utama:

Meneladani Kebijaksanaan di Makam To Ciung

Destinasi pertama dimulai dengan mengunjungi Makam To Ciung. Di situs ini, para siswa diajak mengenal lebih dekat sosok To Ciung, seorang cendekiawan, penasihat, sekaligus tokoh intelektual yang sangat dihormati pada masanya di Kerajaan Luwu.

Gelar To Maccae ri Luwu (orang pintar/bijaksana dari Luwu) yang melekat pada dirinya menjadi bukti betapa besarnya pengaruh pemikiran beliau. Pemikiran To Ciung bahkan kerap menjadi rujukan penting bagi para Datu (Raja) Luwu dalam menjalankan roda pemerintahan dan tata kelola negara. Melalui situs ini, siswa belajar tentang konsep paseng sule'sana serta nilai-nilai moral seputar kejujuran dan kebijaksanaan yang diwariskannya.

Memupuk Patriotisme di Istana Langkanae Kedatuan Luwu

Perjalanan berlanjut ke Istana Langkanae Kedatuan Luwu, simbol marwah dan kedaulatan Tana Luwu. Memasuki kawasan istana, seluruh peserta dan pendamping dari MTsN Kota Palopo diwajibkan mengenakan sarung sebagai bentuk penghormatan terhadap kearifan lokal.

Para siswa mengitari istana untuk melihat benda-benda pusaka peninggalan kerajaan. Mereka mempelajari sejarah istana yang didirikan pada tahun 1922 oleh Andi Jemma Datu Luwu ke-XXXIII, Raja Luwu terakhir. Di kompleks ini, berdiri kokoh bangunan bersejarah seperti Salassae dan Langkanae.

Siswa juga mengamati Monumen Toddo’ Puli’ Temmalara yang berbentuk tangan memegang badik. Monumen ini mengandung makna mendalam, yakni keberanian memperjuangkan kebenaran serta keteguhan hati yang tidak mudah goyah. Istana ini menjadi pengingat konkret bagi generasi muda madrasah akan semangat patriotisme, harga diri (siri'), dan perlawanan rakyat Luwu melawan kolonialisme.

Mengagumi Akulturasi Budaya di Masjid Jami Tua Palopo

Studi religi ini ditutup di Masjid Jami Tua Palopo, salah satu masjid tertua di Sulawesi Selatan yang didirikan pada tahun 1604 Masehi oleh Datu Payung Luwu ke-16, Pati Pasaung Toampanangi Sultan Abdullah Matinroe. Masjid yang awalnya berfungsi sebagai benteng pertahanan ini dinamai Jami (artinya penyatu) dan Tua karena usianya yang telah berabad-abad.

Para siswa dibuat takjub oleh arsitektur masjid yang unik. Struktur utama bangunan ini sama sekali tidak menggunakan besi atau paku, melainkan hanya mengandalkan perekat tradisional dari campuran putih telur dan kapur.

Masjid ini disangga oleh tiang utama dari kayu Cina Duri berdiameter 90 cm dengan segi 12, yang melambangkan 12 anak suku di wilayah Luwu. Hanya memiliki satu pintu masuk utama sebagai simbol tauhid (keesaan Allah), arsitektur masjid ini memadukan gaya Jawa (atap tumpang tiga susun melambangkan syariat, hakikat, makrifat), Bugis (posi bola)

Melalui program kerja yang terlaksana dengan sukses kemarin, para pengurus OSIM dan MPK MTsN Kota Palopo diharapkan tidak hanya sekadar tahu sejarah, melainkan mampu menanamkan rasa bangga dan menjaga nilai-nilai luhur kebudayaan Luwu di tengah tantangan zaman modern.